DEAR PANJI,

Ini bapak titip lewat Teman, ttg pesan ini. Yah, bapak tahu Panji udah mau minta maaf ama bapak & bapak juga maafkan, namun masih bapak rasakan kecanggungan itu. entah karena apa.

Yah yang bapak rasakan, sepertinya Panji masih ada ganjalan, namun entah apa dengan penjelasan ini bapak benar2 Panji terima lagi di hati Panji.

Saat bapak berang pada ibumu & kepsek SD Cakra tempat adikmu si Dhana sekolah, bapak udah rasakan ada sesuatu yang gak beres. bapak lihat ibumu seperti lesu. Tapi masih belum terlihat.


Lalu Panji tahu sendiri, kisah berikutnya, bahwa bapak benar2 bertengkar lagi, untuk agar bapak di terima lagi dirumah sekalipun status bapak udah tak bisa lagi diakui ibumu sebagai suaminya atau hanya mantan suami.


Tapi, sebenarnya hal ini juga ga spenuhnya tpat, soalnya seringkali ibumu juga masih meminta ayahmu melakukan kewajiban sebagai suami, memberi nafkah lahir batin. termasuk keuangan.


lalu bapak temukan tulisan tangan ibumu itu, yang berisi doa, yg intinya, bahwa Tuhan takkan berikan ular berbisa pada orang yg minta roti.  Yang sempat bapak sendiri, dalam hati berdoa pula kepada Tuhan, moga jangan, Tuhan berikan aku ular saat aku berdoa smacam itu agar aku lari kearah roti itu.

lalu ternayata ibumu benar2 dalam keadaan sakit & sudah bapak kasih tahu untuk berobat, namun ia hanya mau nuruti kata2 budemu Atik. Ia hanya makan obat aloevera & kunir itu.

baru seminggu sebelum opname ia mau nuruti kata2 bapak ini. dan akhirnya bapak belikan obat batuk & vitamin itu. namun antibiotik yg bapak kasih sepertinya tidak ia minum.

yang paling bapak nyesel, adalah ibumu sudah kembali jadi ibumu yang istri bapak dulu sebelum meninggal, sama seperti saat ia baru menikah dengan bapak dulu.

dan sekarang kita berdua sama2 stress kali yah?, sama sepertimu, bapakmu ini tak ingin minta atau pakai sedikitpun uang dari hasil sumbangan saat itu sebab, lebih baik ibumu hidup kembali.

dan bapakmu ini juga baru sat di rumah sakit bapakmu bisa obati ibumu yang efeknya bengkak di wajah & kaki ibumu susut dengan cepat. namun soal infeksi itu, terus terang, memang ibumu lagi sakit flek2. tapi bukan itu yg bapak pikrin, bapak tak bisa obati ia dg prana , sebab tak di bolehkan dekat & malah berulangkali disuruh pulang kan?. Hanya sempat bacakan doa hingga bengkaknya hilang, dan juga ibumu sempat sadar sebentar saat hari terakhirnya di RS itu. namun, terus terang, bapak merasakan hal yg tak beres, ibumu mendapat gejala keracunan, dan hari pertama ia opname, simbahmu, tahu2 copot jarum infusnya hingga darahnya keluar lumayan di kasur mungkin kamu lihat itu. Setan mbahmu itu.

Dan soal eracunan itu bapak tahu kalau tensinya turun [penyebab demamnya, dan namun saat infus terakhir itu, bapak lihat ada semacam zat lain yg di campurkan ke infus itu, warna coklat, dan eyang buyutmu Eyang Setyo, saat itu berulangkali datangi bapak & katakan agar bapak sabar, sudah tak ada harapan, dan beliau menunjuk tempat infus itu. bapak sudah cemas sekali sejak awal, sebab bapak lihat ruh ibumu sudah tak menyatu lagi, itu berarti ia sudah koma.

bapak pulang saat itu, tak bisa lagi nahan, himpitan batin bapak, mungkin andainya bapak ini, bisa protes tentang obat infus itu, yang dicampuri cairan warna cklat sperti betadine itu, ibumu masih bisa selamat. sebab, perlu kamu tahu, bapakmu ini, sempat hilangkan semua racun & obat yg tidak diharapkan & saat itu bumu sempat tersadar & bicara dg Pakdemu Ketuk & Budemu Atik.

Tapi beberapa menit kemudian kambuh lagi.

Racun terminum , lama reaksinya, tapi masuk angsung dalam darah, tak ada harapan bila tidak di netralisir dg cepat, atau terus2 di tambahi, dan itu hanya bisa melalui infus.

entah apa itu kesengajaan atau tidak, namun bapak mohon, hati2lah untuk selanjutnya  yah?

Bapak bilang, kamu berdoalah, masih ada kesempatan, masih ada harapan sebelum ibumu di makamkan, namun pukul 11 malam itu, saat bapak bilang sudah iklaskan ya , padamu sebab ibumu, tahu2 muncul dg tersenyum, ia pamitan pada ayahmu ini & lalu bapak datangi ia di tempat ia di semayamkan dan bapak pegang tangannya sudah terasa dingin. padahal satu jam sebelumnya, bapak masih rasakan badan ibumu masih hangat.

bapak sudah berusaha, namun masih banyak hal yang tak bisa kita elakkan, dan kini, kita hanya bisa mohon, Pada Tuhan, Pada Allah, agar ibumu, baik2 aja & Allah ampuni serta lindungi di alam sana.

Saat ini bapak hanya bisa berupaya untuk secepat mungkin merelaisir buku2 yg akan bapak terbitkan.

ttd Bobby Meidianto.